Selamat datang di Lintasan Jiwaku, wahai sahabat-sahabatku...

Jumat, 30 Desember 2011

Ah, Kukira Tak Begitu

kenapa kau
tak lagi hadir di jiwaku
tak lagi berdenyut di hatiku

apakah ini isyarat
bahwa kau
ingin mendeportasiku
dari hidupmu

ah, kukira tak begitu


Luru Jyoti Kisworo
30/12/2011

Selasa, 27 Desember 2011

Pesan Malam

di inboxku, pesanmu menyapaku
saat keheningan malam
menyelimutiku 
sembari seyumsenyum sendiri 
kubalas sapamu
lalu, berbisik lirih hatiku: 
"s'moga balasan singkat yang kutulis untukmu 
menjadi teman terindah dalam tidurmu"


Luru Jyoti Kisworo
Kartasura, 26/12/2011

Jumat, 23 Desember 2011

Menunggumu

: Buat Rantauan Alwiy

aku akan slalu menunggu 
duduk manis di dekat pintu 
sampai kau datang menemaniku
membacakan bait-bait suci untukku


Luru Jyoti Kisworo
Kartasura, 23 Desember 2011

Menunggu Kabar

senja mulai meredup terhapus malam 
sedari tadi, aku menunggu kabar darinya
tapi tak seorangpun yang datang 
memberi berita
aku hanya menanti matahari
tertelan malam, yang digantikan rembulan 


Luru Jyoti Kisworo
Kartasura, 23 Desember 2011

Hanya

hanya untaian kata perpisahan 
yang terakhir kau ucapkan
hanya pahit kenangan
yang kau berikan
lalu, begitu saja aku kau tinggalkan 

kini yang tersisa, linangan air mata


Luru Jyoti Kisworo
Kartasura, 23 Desember 2011

Bila Sampai Nanti

bila sampai nanti 
kau tak juga datang 
aku takkan menunggumu lagi
kar’na aku bukan bintang 
yang setia menerangimu malam ini
pun esok, aku bukan mentari 
yang slalu mendekapmu dalam kehangatan 


Luru Jyoti Kisworo
Kartasura, 23 Desember 2011

Sabtu, 10 Desember 2011

Akan Kubangun Sebuah Cinta

akan kubangun sebuah cinta
berpondasi  kejujuran
beratap kasih sayang
berlantai ketakwaan
berpintu keimanan
berjendela kesetiaan


Luru Jyoti Kisworo
Kartasura, 10 Desember 2011

Aku Rindu Merah Putih Bersamamu

kain merah ini
pernah tumbuhkan keberanian
hingga untukku kau berikan cinta
yang kini bertahan lama

dan kain putih ini
pernah tumbuhkan ketulusan
hingga untukku kau ikat cinta
dengan janji setia


Luru Jyoti Kisworo
Kartasura, 10 Desember 2011

Kedatanganmu

begitu kau datang
terbangunlah aku
rusaklah mimpiku

aku heran, mengapa kedatanganmu
selalu saja mengusik nyenyak tidurku
padahal, kau bukan mimpiku
bukan pula anganku

rasanya,  tak terhitung berapa kali kau datang
tak terhitung pula berapa kali putus mimpiku

mimpi yang tak bersambung
kini jadi angan yang melambung



Luru Jyoti Kisworo
Kartasura, 10 Desember 2011

Selasa, 06 Desember 2011

antara dua kota yang penuh cinta

di kartasura
kau ciptakan kenangan indah
kau berikan kebahagiaan
: tak ternilai
kau wujudkan impianku
kau jadikan aku milikmu
kau rangkai kata untukku

“ I will always love you “

dari Surakarta
kau kirim selembar surat:

“I will always love you
I will be faithful to you
because you created just for me “



Luru Jyoti Kisworo
Kartasura, 6 Desember 2011

Selasa, 29 November 2011

Ingat Kamu

Painted by Rantauan Alwiy
malam ini,
aku tak bisa pejamkan mata
bayangmu kini
menarinari di pelupuk mata


Luru Jyoti Kisworo
Kartasura, 29 November 2011

Senin, 21 November 2011

Lirik Tanpa Judul

saat itu, kau bisikkan kata 
yang membuat anganku bersayap 
kau isyaratkan, 
betapa kau tak bisa jauh dariku 
namun, perlahan kakimu menjauh, 
melangkah pergi melepasku 
dalam ketakpastian 

aku berharap 
jarak membuat kerinduan terbaca 
dan semua kata manismu 
bukanlah dusta


Luru Jyoti Kisworo
21 November 2011

Jumat, 18 November 2011

Cintamu

cintamu ciptakan kata
manis menghujam jiwa
cintamu lahirkan inspirasi
tertoreh pada lembar bait puisi


Luru Jyoti Kisworo
Kartasura, 18 November 2011

Mungkin

mungkin, kau kecewa
bila kekasih menghianati
mengingkari janji suci
ikrar dua hati sampai mati

ingatlah!
betapa cinta itu mungkin
betapa kecewa juga mungkin

mungkin itu mungkin
sebagaimana takmungkin
pun menjadi mungkin


Luru Jyoti Kisworo
Kartasura, 18 November 2011

Bersemayam di Jiwaku

tak ada yang bisa menggantimu
sebab cinta
t'lah mengaliri darahku
berdenyut di nadiku
berdegup di jantungku
lalu terhenti di hatiku
menyesakkan dadaku
kini bersemayam di jiwaku


Luru Jyoti Kisworo
Kartasura, 18 November 2011

Bagiku dan dalam hidupku

bertemu dengamu
: keceriaan bagiku
berkenalan denganmu
: kesenangan bagiku
mencintaimu
: sesuatu yang indah dalam hidupku
berpisah dengamu
: cerita yang teramat pahit dalam hidupku

aku ingin curahkan
segenap cinta dan sayang
hingga buatmu kepayang


Luru Jyoti Kisworo
Kartasura, 18 November 2011

Kamis, 17 November 2011

Aku dan Hatiku

di setiap kesetiaan dan kejujuran
di setiap langkah dan harapan
di setiap kasih dan sayang
di setiap do'a dan ketulusan

akan kupersembahkan
hatiku untukmu


Luru Jyoti Kisworo
Kartasura, 17 November 2011

Rabu, 16 November 2011

Terhalang Tanya

apa salahku
hingga kau buat aku
laksana orang bodoh
: mengharap suatu 
yang tak menentu

hatiku didera tanya:
apa salah, bila ku
mencintamu
apa salah, bila ku
menyayangmu
apa salah, bila ku
mengharapmu

ah tidak, tanya di hatiku
hanyalah tanda baca
karna pantang bagiku
berhenti mencinta


Luru Jyoti Kisworo
Kartasura, 16 Oktober 2011

Selasa, 15 November 2011

Sepucuk Surat Untuk Tuhan

Oleh : Luru Jyoti Kisworo*

Di desa saya, tepatnya di Gunung Kidul, ada seorang petani miskin yang lugu. Saya biasa mengenalnya dengan pak Agus. Kehidupannya penuh dengan kepasrahan pada Tuhan dan berprilaku sederhana. Kebutuhan hidup pak Agus ini bergantung pada hasil panen yang dinantikannya dua kali dalam setahun. Saya sempat mendengar beliau berkelakar pada saya: “Luru, kami tidak pernah bingung dan khawatir jika di desa ini kami tidak memegang sedikitpun uang. Kami merasa cukup dengan apa yang ada pada kami. Untuk kebutuhan makan sehari-hari kami tidak memerlukan uang banyak seperti kebanyakan orang di kota. Kami menyimpan sebagian hasil panen kami (beras) di lumbung untuk kebutuhan makan sehari-hari. Selain itu, kami juga menanam berbagai jenis sayur-sayuran, bila kami membutuhkannya, kami akan petik secukupnya. Kami juga menanam buah-buahan, jika kami menginginkannya kami akan petik secukupnya. Namun, tidak semua yang kami tanam pasti membuahkan hasil, semuanya tergantung pada Tuhan yang mengatur alam ini, kami hanya menanti keberuntungan berpihak pada kami”.

Saya cukup bersimpati dengan kehidupan pak Agus dan keluarganya, tapi saya sempat berpikir bagaimana dia tidak membutuhkan uang sepeserpun, sementara kedua anaknya kini sedang menjalani pendidikan formal. Sepengetahuan saya, putra sulung pak Agus kini kelas tiga SLTP, sementara si bungsu (adiknya) duduk di kelas empat SD. Dengan nada penasaran, saya berharap pak Agus memberikan klarifikasi atas pernyataannya yang menyatakan bahwa tidak memiliki rasa khawatir jika tidak memiliki uang sepeserpun. “Maaf pak Agus, apakah bapak tidak merasa khawatir jika bapak tidak memegang uang, sementara kedua anak bapak barangkali untuk keperluan sekolahnya sesekali merengek-rengek untuk meminta uang pada bapak”. Mendengar pertanyaan saya, pak Agus dengan enteng menjawab: “udahlah, santai saja semuanya sudah ada yang mengatur, kita jalani hidup ini apa adanya saja”.

***

Suatu ketika keluarga pak Agus ini mengalami kesulitan untuk mendapatkan sejumlah uang guna membayar keperluan sekolah kedua anaknya. Si sulung merengek minta uang guna membayar buku paket yang disediakan sekolahnya. Tanpa berpikir panjang, pak Agus mengambil secarik kertas dan menulis sepucuk surat. Surat itu ia tujukan kepada Tuhan. Kepada Tuhan ia menulis: “Tuhan, kami membutuhkan sejumlah uang untuk membayar buku paket sekolah bagi si sulung anak kami. Tuhan, kami mohon agar Engkau mengirimkan uang sebesar Rp. 350.000,00.” Kemudian pak Agus melipat surat yang ditulisnya, memasukkannya ke dalam amplop dan mengirimkannya melalui kantor pos. Di kantor pos, pagi itu para petugas penyortir surat kebingungan setelah menemukan sepucuk surat yang ditujukan kepada Tuhan. Mereka benar-benar heran karena pada amplop itu tertulis bahwa surat itu ditujukan kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Sementara para penyortir merasa kebingungan untuk mengelompokkan surat itu ke dalam kotak yang bertuliskan nama propinsi, kota, kecamatan, atau desa tujuan di mana surat tersebut harus dikirimkan. Beruntung, di bagian lain pada amplop itu juga tertulis nama dan alamat lengkap pengirimnya. Tapi, sebelum surat itu dikembalikan kepada pengirimnya, salah seorang penyortir menyerahkan surat tersebut kepada pimpinan kantor pos. Pimpinan kantor pos itu membaca surat tersebut. Setelah mengetahui kalau isi surat tersebut adalah permohonan agar Tuhan memberi pengirimnya sejumlah uang, maka pimpinan kantor pos itu berinisiatif mengajak beberapa anak buahnya untuk menyumbang si pengirim surat. Tentu saja, sesuai dengan kemampuan keuangan masing-masing. Akhirnya, uang tersebut terkumpul hingga Rp. 300.000,00. Uang tersebut dimasukkan ke dalam amplop kemudian dikirimkan kepada pengirim surat sebagai balasan (jawaban) dari surat yang telah dikirimkannya melalui kantor pos.

***

Siang itu, keluarga pak Agus sedang duduk bersantai pada sebuah bangku tua yang ada di teras rumah. Saat itu pula, datanglah tukang pos yang menghantarkan ‘surat jawaban’ atas ‘surat pak Agus pada Tuhan’ yang sebelumnya telah dikirimkan melalui kantor pos. Setelah tukang pos yang menghantarkan surat itu pergi, pak Agus buru-buru membuka ‘surat jawaban’ itu dan ia menemukan uang di dalamnya. Pak Agus sangat bersyukur karena permohonannya kepada Tuhan yang ia sampaikan melalui sepucuk surat ternyata terkabulkan. Kemudian, pak Agus buru-buru menghitung uang tersebut. Setelah mengetahui kalau jumlah uang tersebut hanya Rp. 300.000,00 atau kurang Rp. 50.000,00 dari permohonannya, maka pak Agus menulis lagi sepucuk surat yang ia tujukan pada Tuhan. Di surat itu ia menulis: “Terima kasih Tuhan atas terkabulnya permohonan kami, dan tolong kirimkan lagi sisanya (Rp. 50.000,00), tapi jangan kau lewatkan kantor pos. Sebab, barangkali orang-orang di kantor pos itu semuanya koruptor”.

Kartasura, 18 Mei 2010
*Penulis adalah siswa SMP Negeri 03 Kartasura