Oleh : Luru Jyoti Kisworo*
Di desa saya, tepatnya di Gunung Kidul, ada seorang petani miskin yang lugu. Saya biasa mengenalnya dengan pak Agus. Kehidupannya penuh dengan kepasrahan pada Tuhan dan berprilaku sederhana. Kebutuhan hidup pak Agus ini bergantung pada hasil panen yang dinantikannya dua kali dalam setahun. Saya sempat mendengar beliau berkelakar pada saya: “Luru, kami tidak pernah bingung dan khawatir jika di desa ini kami tidak memegang sedikitpun uang. Kami merasa cukup dengan apa yang ada pada kami. Untuk kebutuhan makan sehari-hari kami tidak memerlukan uang banyak seperti kebanyakan orang di kota. Kami menyimpan sebagian hasil panen kami (beras) di lumbung untuk kebutuhan makan sehari-hari. Selain itu, kami juga menanam berbagai jenis sayur-sayuran, bila kami membutuhkannya, kami akan petik secukupnya. Kami juga menanam buah-buahan, jika kami menginginkannya kami akan petik secukupnya. Namun, tidak semua yang kami tanam pasti membuahkan hasil, semuanya tergantung pada Tuhan yang mengatur alam ini, kami hanya menanti keberuntungan berpihak pada kami”.
Di desa saya, tepatnya di Gunung Kidul, ada seorang petani miskin yang lugu. Saya biasa mengenalnya dengan pak Agus. Kehidupannya penuh dengan kepasrahan pada Tuhan dan berprilaku sederhana. Kebutuhan hidup pak Agus ini bergantung pada hasil panen yang dinantikannya dua kali dalam setahun. Saya sempat mendengar beliau berkelakar pada saya: “Luru, kami tidak pernah bingung dan khawatir jika di desa ini kami tidak memegang sedikitpun uang. Kami merasa cukup dengan apa yang ada pada kami. Untuk kebutuhan makan sehari-hari kami tidak memerlukan uang banyak seperti kebanyakan orang di kota. Kami menyimpan sebagian hasil panen kami (beras) di lumbung untuk kebutuhan makan sehari-hari. Selain itu, kami juga menanam berbagai jenis sayur-sayuran, bila kami membutuhkannya, kami akan petik secukupnya. Kami juga menanam buah-buahan, jika kami menginginkannya kami akan petik secukupnya. Namun, tidak semua yang kami tanam pasti membuahkan hasil, semuanya tergantung pada Tuhan yang mengatur alam ini, kami hanya menanti keberuntungan berpihak pada kami”.
Saya cukup bersimpati dengan kehidupan pak Agus dan keluarganya, tapi saya sempat berpikir bagaimana dia tidak membutuhkan uang sepeserpun, sementara kedua anaknya kini sedang menjalani pendidikan formal. Sepengetahuan saya, putra sulung pak Agus kini kelas tiga SLTP, sementara si bungsu (adiknya) duduk di kelas empat SD. Dengan nada penasaran, saya berharap pak Agus memberikan klarifikasi atas pernyataannya yang menyatakan bahwa tidak memiliki rasa khawatir jika tidak memiliki uang sepeserpun. “Maaf pak Agus, apakah bapak tidak merasa khawatir jika bapak tidak memegang uang, sementara kedua anak bapak barangkali untuk keperluan sekolahnya sesekali merengek-rengek untuk meminta uang pada bapak”. Mendengar pertanyaan saya, pak Agus dengan enteng menjawab: “udahlah, santai saja semuanya sudah ada yang mengatur, kita jalani hidup ini apa adanya saja”.
Suatu ketika keluarga pak Agus ini mengalami kesulitan untuk mendapatkan sejumlah uang guna membayar keperluan sekolah kedua anaknya. Si sulung merengek minta uang guna membayar buku paket yang disediakan sekolahnya. Tanpa berpikir panjang, pak Agus mengambil secarik kertas dan menulis sepucuk surat. Surat itu ia tujukan kepada Tuhan. Kepada Tuhan ia menulis: “Tuhan, kami membutuhkan sejumlah uang untuk membayar buku paket sekolah bagi si sulung anak kami. Tuhan, kami mohon agar Engkau mengirimkan uang sebesar Rp. 350.000,00.” Kemudian pak Agus melipat surat yang ditulisnya, memasukkannya ke dalam amplop dan mengirimkannya melalui kantor pos. Di kantor pos, pagi itu para petugas penyortir surat kebingungan setelah menemukan sepucuk surat yang ditujukan kepada Tuhan. Mereka benar-benar heran karena pada amplop itu tertulis bahwa surat itu ditujukan kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Sementara para penyortir merasa kebingungan untuk mengelompokkan surat itu ke dalam kotak yang bertuliskan nama propinsi, kota, kecamatan, atau desa tujuan di mana surat tersebut harus dikirimkan. Beruntung, di bagian lain pada amplop itu juga tertulis nama dan alamat lengkap pengirimnya. Tapi, sebelum surat itu dikembalikan kepada pengirimnya, salah seorang penyortir menyerahkan surat tersebut kepada pimpinan kantor pos. Pimpinan kantor pos itu membaca surat tersebut. Setelah mengetahui kalau isi surat tersebut adalah permohonan agar Tuhan memberi pengirimnya sejumlah uang, maka pimpinan kantor pos itu berinisiatif mengajak beberapa anak buahnya untuk menyumbang si pengirim surat. Tentu saja, sesuai dengan kemampuan keuangan masing-masing. Akhirnya, uang tersebut terkumpul hingga Rp. 300.000,00. Uang tersebut dimasukkan ke dalam amplop kemudian dikirimkan kepada pengirim surat sebagai balasan (jawaban) dari surat yang telah dikirimkannya melalui kantor pos.
***
Suatu ketika keluarga pak Agus ini mengalami kesulitan untuk mendapatkan sejumlah uang guna membayar keperluan sekolah kedua anaknya. Si sulung merengek minta uang guna membayar buku paket yang disediakan sekolahnya. Tanpa berpikir panjang, pak Agus mengambil secarik kertas dan menulis sepucuk surat. Surat itu ia tujukan kepada Tuhan. Kepada Tuhan ia menulis: “Tuhan, kami membutuhkan sejumlah uang untuk membayar buku paket sekolah bagi si sulung anak kami. Tuhan, kami mohon agar Engkau mengirimkan uang sebesar Rp. 350.000,00.” Kemudian pak Agus melipat surat yang ditulisnya, memasukkannya ke dalam amplop dan mengirimkannya melalui kantor pos. Di kantor pos, pagi itu para petugas penyortir surat kebingungan setelah menemukan sepucuk surat yang ditujukan kepada Tuhan. Mereka benar-benar heran karena pada amplop itu tertulis bahwa surat itu ditujukan kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Sementara para penyortir merasa kebingungan untuk mengelompokkan surat itu ke dalam kotak yang bertuliskan nama propinsi, kota, kecamatan, atau desa tujuan di mana surat tersebut harus dikirimkan. Beruntung, di bagian lain pada amplop itu juga tertulis nama dan alamat lengkap pengirimnya. Tapi, sebelum surat itu dikembalikan kepada pengirimnya, salah seorang penyortir menyerahkan surat tersebut kepada pimpinan kantor pos. Pimpinan kantor pos itu membaca surat tersebut. Setelah mengetahui kalau isi surat tersebut adalah permohonan agar Tuhan memberi pengirimnya sejumlah uang, maka pimpinan kantor pos itu berinisiatif mengajak beberapa anak buahnya untuk menyumbang si pengirim surat. Tentu saja, sesuai dengan kemampuan keuangan masing-masing. Akhirnya, uang tersebut terkumpul hingga Rp. 300.000,00. Uang tersebut dimasukkan ke dalam amplop kemudian dikirimkan kepada pengirim surat sebagai balasan (jawaban) dari surat yang telah dikirimkannya melalui kantor pos.
***
Siang itu, keluarga pak Agus sedang duduk bersantai pada sebuah bangku tua yang ada di teras rumah. Saat itu pula, datanglah tukang pos yang menghantarkan ‘surat jawaban’ atas ‘surat pak Agus pada Tuhan’ yang sebelumnya telah dikirimkan melalui kantor pos. Setelah tukang pos yang menghantarkan surat itu pergi, pak Agus buru-buru membuka ‘surat jawaban’ itu dan ia menemukan uang di dalamnya. Pak Agus sangat bersyukur karena permohonannya kepada Tuhan yang ia sampaikan melalui sepucuk surat ternyata terkabulkan. Kemudian, pak Agus buru-buru menghitung uang tersebut. Setelah mengetahui kalau jumlah uang tersebut hanya Rp. 300.000,00 atau kurang Rp. 50.000,00 dari permohonannya, maka pak Agus menulis lagi sepucuk surat yang ia tujukan pada Tuhan. Di surat itu ia menulis: “Terima kasih Tuhan atas terkabulnya permohonan kami, dan tolong kirimkan lagi sisanya (Rp. 50.000,00), tapi jangan kau lewatkan kantor pos. Sebab, barangkali orang-orang di kantor pos itu semuanya koruptor”.
Kartasura, 18 Mei 2010
*Penulis adalah siswa SMP Negeri 03 Kartasura
Tidak ada komentar:
Posting Komentar